The Most/Recent Articles

Dukung Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKN Teknik Sipil Undip Rancang Site Plan Produksi Pupuk Mikroba di Desa Dawungan.

 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) terus menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan masyarakat. Menindaklanjuti kesuksesan program "Branding dan Manajemen Usaha Pupuk Mikroba Berkelanjutan" di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, mahasiswa dari Program Studi Teknik Sipil mengambil peran krusial melalui langkah konkret. Mereka merancang site plan (tata letak) fasilitas produksi pupuk mikroba khusus untuk komunitas Kelompok Tani Desa Dawungan.

Kehadiran program multidisiplin ini bukan tanpa alasan. Tim KKN Undip melihat bahwa selain strategi pemasaran dan branding yang kuat, kelancaran manajemen usaha pupuk mikroba sangat dipengaruhi oleh infrastruktur produksi yang sistematis. Pembuatan pupuk berskala industri rumahan oleh kelompok tani seringkali terkendala oleh tata letak ruang yang kurang beraturan, sehingga memperlambat alur kerja.

Menjawab tantangan tersebut, Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Teknik Sipil Undip yang tergabung dalam tim ini, menghadirkan inovasi berupa perancangan denah, pemetaan alur produksi yang runtut, hingga pembuatan sketsa isometri 3D. Melalui visualisasi 3D ini, para petani dapat dengan mudah membayangkan dan menata ulang ruang produksi mereka agar alur pencampuran bahan, proses fermentasi, hingga pengemasan tidak saling tumpang tindih.

Terkait program kerjanya, Fairuz Thoriq menjelaskan bahwa pendekatan teknis sangat diperlukan untuk membangun industri rumahan yang efisien. Pembuatan denah, alur produksi, dan sketsa isometri 3D ini pada dasarnya adalah bentuk inovasi infrastruktur skala mikro. Dalam sudut pandang Teknik Sipil, perancangan tata letak yang matang itu sangat vital. Tujuannya adalah untuk memangkas waktu pengerjaan yang tidak perlu, sehingga efisiensi dan kapasitas produksi industri rumahan milik kelompok tani dapat meningkat tajam.

Langkah strategis perancangan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Pertama, mendukung SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Inovasi tata ruang dari mahasiswa Teknik Sipil ini menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur tidak melulu soal pembangunan fisik besar, melainkan juga optimalisasi alur kerja di tingkat mikro (UMKM) untuk mendorong industrialisasi yang lebih baik di desa.

Kedua, mendukung SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Mengoptimalkan alur produksi sejalan dengan tema manajemen pupuk yang "berkelanjutan". Mengoptimalkan alur produksi pupuk mikroba secara langsung mendukung praktik produksi yang lebih bersih. Dengan site plan yang terukur, risiko bahan baku tercecer atau kontaminasi silang bisa ditekan, sehingga mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab.

Sinergi antara branding kemasan yang menarik dan manajemen tata letak produksi yang efisien ini diharapkan dapat menjadi fondasi bisnis yang kuat. Tim KKN Undip berharap, rancangan infrastruktur mikro ini tidak sekadar menjadi gambar di atas kertas, melainkan panduan nyata yang membawa industri pupuk mikroba Kelompok Tani Desa Dawungan semakin mandiri, profesional, dan berkelanjutan.



Editor: Keredaksian Digdaya

Sinergi Mahasiswa KKN Undip Bantu Pelaksanaan Layanan Posyandu di Desa Asemdoyong

Upaya memperkuat layanan kesehatan dasar serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tingkat desa dilakukan oleh Tim II KKN Reguler Universitas Diponegoro (Undip) Kelompok 10 bidang Saintek melalui program sosial kemasyarakatan (sosmas) berupa pendampingan kegiatan Posyandu terpadu di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini diselenggarakan secara kolaboratif bersama para kader Posyandu dan Penggerak PKK setempat dengan sasaran berbagai kelompok umur masyarakat, mulai dari bayi dan balita, remaja, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok lansia.

Pelaksanaan program melibatkan secara aktif tim mahasiswa lintas disiplin dari rumpun Sains dan Teknologi (Saintek). Kehadiran mahasiswa pada kegiatan kesehatan desa tersebut bertujuan memberikan dukungan teknis sekaligus membantu kelancaran alur pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa.

Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa KKN Undip terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan Posyandu terpadu secara sistematis. Bayi dan balita memperoleh pendampingan dalam proses pemantauan tumbuh kembang melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan guna mendukung pencatatan kondisi pertumbuhan secara akurat. Kelompok lansia menerima pelayanan melalui Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) berupa pemeriksaan kesehatan rutin yang dilakukan bersama pihak Puskesmas terkait. Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, serta kadar kolesterol untuk membantu memantau risiko penyakit tidak menular pada kelompok usia lanjut.

Kontribusi mahasiswa tidak hanya berfokus pada proses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencakup perapian administrasi dan pengelolaan data Posyandu bersama para kader desa. Pendampingan administrasi dilakukan untuk memastikan data rekapitulasi kesehatan warga, mulai dari hasil penimbangan balita hingga pencatatan pemeriksaan lansia, tersusun secara rapi dan akurat. Data tersebut dapat dimanfaatkan sebagai basis informasi dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat Desa Asemdoyong yang lebih terorganisasi.

Pendampingan kegiatan Posyandu diharapkan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi kader kesehatan Desa Asemdoyong. Peningkatan kemampuan kader dalam menjalankan alur pelayanan dan administrasi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pendampingan dapat diterapkan kembali dalam kegiatan Posyandu berikutnya.

Partisipasi aktif mahasiswa KKN Undip mendapat sambutan positif dari para kader Posyandu dan masyarakat Desa Asemdoyong. Sinergi antara mahasiswa, kader kesehatan, PKK, dan pihak Puskesmas menjadi bentuk kolaborasi dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir Desa Asemdoyong mengenai pentingnya pemantauan kesehatan secara rutin serta mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan Posyandu secara berkala.




Editor: Keredaksian Digdaya


KKN Reguler Tim II Undip Hadirkan Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Perkuat Pendidikan dan Kepedulian Lingkungan di Desa Asemdoyong


Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) di Desa Asemdoyong, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, menghadirkan rangkaian program multidisiplin sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Tema “Kolaborasi Lintas Disiplin dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pengelolaan Lingkungan Berbasis Masyarakat” menjadi dasar pelaksanaan program yang memadukan berbagai bidang keilmuan, mulai dari hukum, kimia, bahasa dan kebudayaan, kesehatan masyarakat, hingga teknik perkapalan. Kelima program dirancang berdasarkan potensi dan permasalahan yang ditemukan di Desa Asemdoyong. Permasalahan pendidikan, kesehatan anak, pengelolaan sampah, serta karakteristik Asemdoyong sebagai wilayah pesisir menjadi dasar mahasiswa dalam menyusun kegiatan yang edukatif dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan menjadi salah satu perhatian utama dalam rangkaian kegiatan tersebut. Desa Asemdoyong memiliki potensi untuk terhindar dari penumpukan sampah ilegal, tetapi masih ditemukan praktik pembuangan sampah di lokasi yang bukan merupakan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas lingkungan, termasuk kawasan persawahan yang masih produktif. Peningkatan kesadaran masyarakat dilakukan melalui program “Pemasangan Banner Raperda Daerah tentang Larangan Pembuangan Sampah dan Hukumannya pada Titik-Titik Pembuangan Sampah Ilegal.” Banner memuat substansi regulasi desa dan kabupaten mengenai larangan membuang sampah sembarangan serta informasi mengenai konsekuensinya. Pemasangan dilakukan pada titik yang kerap digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah ilegal sekaligus mengarahkan masyarakat untuk membuang sampah melalui TPS resmi Desa Asemdoyong.

Kondisi lingkungan pesisir juga menjadi perhatian dalam program “Pembuatan dan Pemasangan Papan Informasi Lingkungan sebagai Media Edukasi di Kawasan Pesisir Desa Asemdoyong.” Desa Asemdoyong memiliki kawasan pesisir dan aktivitas masyarakat yang bergantung pada kelestarian lingkungan pantai. Permasalahan sampah di kawasan pesisir serta keterbatasan media edukasi mengenai dampak sampah dan waktu penguraiannya masih menjadi kondisi yang perlu mendapat perhatian. Program tersebut diawali dengan observasi lingkungan dan penentuan lokasi strategis, kemudian dilanjutkan dengan koordinasi bersama pemerintah desa dan pihak terkait hingga proses pembuatan serta pemasangan papan informasi. Media tersebut memuat informasi mengenai waktu penguraian berbagai jenis sampah sekaligus ajakan menjaga kebersihan. Sasaran kegiatan meliputi masyarakat sekitar pesisir, pengunjung wisata, serta pelaku UMKM di kawasan tersebut.

Edukasi menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan program multidisiplin untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Desa Asemdoyong. Hasil koordinasi dengan pemerintah desa menunjukkan bahwa aspek pendidikan masih menjadi perhatian, terutama karena sebagian besar anak di Desa Asemdoyong menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa untuk menghadirkan kegiatan edukasi yang menarik, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik anak-anak sebagai upaya menumbuhkan minat belajar serta memperluas pengetahuan mereka. Program “Sosialisasi dan Edukasi terkait Bahasa dan Budaya Jepang melalui Cerita Rakyat ‘Urashima Taro’” menjadi salah satu bentuk kegiatan edukasi bagi anak-anak. Kegiatan menyasar anak-anak di sekitar posko KKN yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan belajar bersama tim KKN. Penyampaian materi dikemas secara menyenangkan melalui video cerita rakyat Urashima Taro, pengenalan kosakata bahasa Jepang, poster alur cerita, kegiatan mewarnai kimono, serta menulis nama menggunakan huruf Jepang.

Pendekatan pembelajaran kontekstual juga diterapkan dalam program “Meningkatkan Pemahaman dan Minat Belajar Anak-Anak terhadap Ilmu Pengetahuan melalui Pembelajaran Hukum Archimedes yang Dikaitkan dengan Kapal dan Kehidupan Masyarakat Nelayan.” Karakteristik Desa Asemdoyong sebagai wilayah yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas pesisir dan perikanan menjadi dasar pemilihan materi tersebut. Kapal, perahu, laut, dan aktivitas penangkapan ikan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat sehingga konsep Hukum Archimedes dapat disampaikan melalui contoh yang dekat dengan lingkungan anak-anak. Pembelajaran dilakukan melalui pemaparan materi, tanya jawab, serta aktivitas kreativitas untuk anak-anak di sekitar posko KKN. Luaran kegiatan berupa poster yang memuat pembahasan Hukum Archimedes dan gambar untuk diwarnai disediakan sebagai media edukasi yang dapat digunakan kembali oleh anak-anak.

Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diwujudkan melalui program “Pemasangan Kaca Cembung”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya keselamatan, khususnya pada area jalan yang memiliki keterbatasan jarak pandang dan rawan terjadinya kecelakaan. Edukasi diberikan dengan menjelaskan fungsi kaca cembung sebagai alat bantu untuk memperluas jangkauan pandang pengendara pada tikungan maupun persimpangan. Kegiatan dilakukan melalui pemasangan kaca cembung pada titik yang telah ditentukan berdasarkan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami pentingnya penerapan K3 serta meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan dalam beraktivitas di lingkungan sekitar.

Kelima program tersebut memperlihatkan penerapan kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab persoalan masyarakat secara lebih menyeluruh. Edukasi hukum dan ilmu kimia dalam lingkungan diarahkan untuk membangun kepedulian terhadap kebersihan, sedangkan pendekatan bahasa, kesehatan, dan sains digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar anak-anak Desa Asemdoyong. Rangkaian kegiatan KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga menghasilkan media edukasi dan pengetahuan yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat. Kolaborasi lintas bidang diharapkan menjadi langkah kecil dalam mendukung terwujudnya Desa Asemdoyong yang semakin edukatif, sehat, peduli lingkungan, dan berkelanjutan.




Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa Teknik Sipil UNDIP Dorong Keselamatan UMKM, Inovasikan K3 dalam Workshop Kombucha di Desa Dawungan

 

Dalam upaya mendorong perekonomian mandiri melalui inovasi pangan, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro mengadakan Program Kerja Multidisiplin bertajuk "Workshop Pembuatan Teh Kombucha: Inovasi Pangan Fermentasi untuk Mewujudkan Masyarakat Sehat dan Ekonomi Desa yang Tangguh" di Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen pada Senin, 3 Agustus 2026. Di tengah antusiasme warga mempelajari cara pembuatan minuman fermentasi ini, ada satu aspek krusial yang dibawa oleh mahasiswa KKN agar produksi tetap aman dan berkelanjutan, yakni Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Inovasi ini diinisiasi oleh Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UNDIP. Jika keilmuan K3 biasanya identik dengan proyek konstruksi berskala besar, Fairuz mengadaptasinya menjadi penyuluhan K3 sederhana yang dikhususkan untuk skala produksi dapur rumahan atau UMKM. Edukasi ini ditekankan pada pemahaman masyarakat mengenai risiko tersembunyi dalam proses fermentasi kombucha.

Sebagai bentuk uaran fisik yang berkelanjutan, program ini menghasilkan booklet panduan kelompok. Fairuz secara khusus menyusun materi, yaitu “Pentingnya Kesehatan dab Keselamatan Kerja Produksi Kombucha" serta "SOP Penyimpanan Toples Fermentasi". Sosialisasi ini mengajarkan warga cara memitigasi risiko kecelakaan kerja di dapur produksi, seperti bahaya pecahnya toples kaca akibat tumpukan tekanan gas fermentasi, risiko kontaminasi bakteri patogen, hingga potensi luka bakar saat merebus bahan baku.

Langkah preventif ini merupakan bentuk implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDGs). Dari segi SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), edukasi K3 ini menjadi perisai utama untuk mencegah cedera fisik dan menjaga kesehatan warga secara menyeluruh. Banyak yang belum menyadari bahwa proses fermentasi menghasilkan gas karbon dioksida yang jika terperangkap di ruang kedap bisa menyebabkan ledakan pada toples kaca. Melalui SOP penyimpanan ini, kami ingin warga Desa Dawungan tidak hanya sukses berwirausaha kombucha, tetapi juga memiliki standar keselamatan yang terjamin sejak dari skala dapur.

Sementara itu, program ini juga secara langsung menjawab tantangan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), khususnya pada Target 8.8, karena berhasil menciptakan lingkungan kerja UMKM yang aman dan terlindungi bagi warga desa yang akan merintis usaha kombucha. Kegiatan ini pun disambut antusias oleh para peserta. “Ini ilmu baru bagi kami. Kombucha memang terasa agak asing, apalagi aromanya karena belum terbiasa. Namun karena khasiatnya, Teh Kombucha ini sangat baik untuk disebarluaskan kepada masyarakat,” ungkap salah satu Ibu kader Posyandu Desa Dawungan.

Melalui sinergi lintas disiplin ilmu ini, diharapkan Desa Dawungan tidak sekadar menjadi produsen teh kombucha yang unggul, tetapi juga menjadi percontohan desa yang sadar akan pentingnya iklim usaha rumahan yang aman, sehat, dan berdaya saing tinggi.





Editor: Keredaksian Digdaya

Mahasiswa KKN UNDIP Rancang Lapangan Ikonik Desa Dawungan, Dukung Pembangunan Infrastruktur dan Ruang Publik Berkelanjutan

Dalam upaya mengoptimalkan fungsi ruang publik dan estetika kawasan desa secara berkesinambungan, Fairuz Thoriq Hananto, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi Teknik Sipil Universitas Diponegoro (UNDIP), merancang tata ruang terintegrasi. Perancangan ini ditujukan untuk pembuatan Lapangan Ikon Desa Dawungan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen yang diinisiasi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Perancangan strategis ini secara khusus bertujuan untuk menciptakan ruang interaksi bagi masyarakat yang tidak hanya aman, tetapi juga tangguh, dan memiliki standar teknis yang tinggi.

Program kerja individu yang bertajuk "Perancangan Lapangan Ikon Desa Dawungan" ini diawali dengan tahap survei topografi lokasi. Langkah awal ini sangat krusial untuk menentukan tata letak zonasi kawasan yang paling efektif dan efisien. Berdasarkan perolehan data lapangan tersebut, selanjutnya dilakukan tahapan perencanaan teknis yang sangat matang. Perencanaan ini mencakup proses pemilihan bahan bangunan yang kuat, memiliki ketahanan terhadap cuaca, serta dipastikan memenuhi standar keamanan atau ergonomi bagi para penggunanya.

Sebagai luaran utama dari program KKN ini, dihasilkan dokumen Gambar Kerja Detail atau yang lebih dikenal dengan Detail Engineering Design (DED) beserta sketsa 3D untuk lapangan desa tersebut. Pembuatan desain infrastruktur ini secara langsung mendukung pencapaian target global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs).

Pertama, program ini mengimplementasikan SDG 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, khususnya pada Target 11.7. Dalam hal ini, rancangan lapangan diproyeksikan agar dapat menjadi ruang publik yang senantiasa aman, inklusif, dan mudah diakses sebagai pusat interaksi sosial seluruh lapisan masyarakat. Kedua, perancangan tata ruang ini juga selaras dengan nilai-nilai pada SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Gambar kerja detail dan sketsa 3D yang dibuat dengan menggunakan standar perancangan sipil yang baik menjadi sebuah tahap fundamental dalam merencanakan wujud infrastruktur desa yang tangguh dan terencana dengan baik.

Melalui perancangan DED dan visualisasi sketsa 3D ini, diproyeksikan bahwa rancangan lapangan tidak hanya sekadar optimal secara estetika sebagai ikon desa. Lebih dari itu, lapangan ini ditargetkan memiliki landasan teknis yang sangat kuat, fungsional, dan dijamin aman untuk digunakan oleh warga dalam jangka waktu yang panjang.

Dengan diserahkannya dokumen DED dan sketsa 3D tersebut kepada pihak desa, diharapkan desain Lapangan Ikon Desa Dawungan ini dapat segera direalisasikan pada tahap pengerjaan konstruksi selanjutnya. Ke depannya, kehadiran infrastruktur lapangan ini sangat diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup warga sekitar, sekaligus menjadi motor penggerak utama untuk berbagai ragam kegiatan sosial, olahraga, serta pemberdayaan masyarakat desa yang berkelanjutan.




Editor: Keredaksian Digdaya

KKN Undip Kembangkan Lampu IoT Tenaga Surya untuk Revitalisasi Sendang Kemantren

 

Penyerahan Kunci Box Panel Surya kepada Ketua Kelompok Tani Mijen Permai

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 52 Universitas Diponegoro (Undip) menghadirkan lampu jalan otomatis berbasis Internet of Things (IoT) dengan memanfaatkan tenaga panel surya di Sendang Kemantren, Kelurahan Mijen, Kota Semarang pada 14 Agustus 2026.

Program tersebut merupakan bagian dari program kerja “Revitalisasi Sendang” yang bertujuan mendukung proses penataan Sendang Kemantren sebagai kawasan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata di masa mendatang.

Sendang Kemantren berada di kawasan hutan jati Mijen dan selama ini dirawat oleh Kelompok Tani setempat. Kawasan tersebut memiliki potensi lingkungan yang dapat dikembangkan, namun masih terdapat sejumlah keterbatasan infrastruktur, salah satunya belum tersedianya penerangan di sekitar sendang.

Kondisi lokasi yang berada di kawasan hutan juga membuat akses terhadap jaringan listrik tidak semudah di kawasan permukiman. Hal tersebut menjadi pertimbangan mahasiswa dalam mencari alternatif penerangan yang dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Sebagai mahasiswa Program Studi Informatika, tim KKN-T IDBU 52 kemudian mengembangkan solusi berbasis teknologi sesuai arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Setelah melakukan koordinasi dengan pihak setempat, kebutuhan penerangan di kawasan sendang menjadi salah satu kebutuhan yang dinilai penting untuk mendukung proses penataan kawasan.

Agus Chris, selaku Ketua Kelompok Tani Mijen, menyampaikan bahwa keberadaan penerangan dapat membantu mendukung aktivitas dan proses penataan kawasan Sendang Kemantren.

“Selama ini memang belum ada penerangan di sekitar sendang. Dengan adanya lampu ini, kami berharap kawasan bisa lebih nyaman dan memudahkan warga ketika ada kegiatan atau perawatan di sekitar sendang,” ujar Agus.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, mahasiswa merancang sistem lampu jalan otomatis berbasis IoT dengan panel surya sebagai sumber energi. Sistem ini dirancang agar lampu dapat bekerja secara otomatis sesuai kondisi yang telah ditentukan tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik konvensional.

Proses pengembangan dilakukan mulai dari menentukan komponen yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan, merakit rangkaian, hingga melakukan pengujian sistem. Rangkaian tersebut mengintegrasikan panel surya, komponen pengatur dan penyimpan energi, perangkat pengendali, serta lampu sebagai sumber penerangan.

Panel surya digunakan untuk menangkap energi matahari yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya sistem. Sementara itu, perangkat pengendali berfungsi mengatur kerja lampu sehingga sistem dapat beroperasi secara otomatis.

Mahasiswa juga melakukan pengujian untuk memastikan rangkaian dapat menerima dan menyimpan energi serta lampu dapat bekerja sesuai mekanisme yang telah dirancang. Proses ini menjadi bentuk penerapan ilmu Informatika untuk menjawab permasalahan nyata yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Ketua RW 07, Siyamto, menyampaikan bahwa penerapan lampu tenaga surya tersebut diharapkan dapat menjadi contoh yang dapat dikembangkan di kawasan sendang lainnya.

“Kami berharap lampu ini bisa menjadi percontohan. Kalau sudah terlihat manfaatnya, ke depannya bisa diduplikasi dan diterapkan di daerah sendang lainnya, sehingga kawasan-kawasan tersebut juga bisa lebih tertata dan memiliki penerangan,” ujar Siyamto.

Penggunaan panel surya dinilai sesuai dengan kondisi kawasan yang memiliki keterbatasan akses terhadap jaringan listrik. Selain menyediakan sumber energi alternatif, penerapan teknologi tersebut juga menjadi upaya memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan fasilitas sederhana di lingkungan masyarakat.

Kehadiran lampu diharapkan dapat mendukung kenyamanan dan aksesibilitas masyarakat ketika beraktivitas di sekitar kawasan sendang, sekaligus membantu kegiatan perawatan dan penataan yang dilakukan oleh Kelompok Tani setempat.



Editor: Keredaksian Digdaya